Kamis, 15 April 2010

TERAPI UNTUK ANAK ADHD

Telah tersedia beberapa pilihan tritmen yang telah terbukti efektif untuk menangani anak-anak dengan gejala ADHD. Strategi penanganan tersebut melibatkan aspek farmasi, perilaku, dan metode multimodal.
Metode perubahan perilaku bertujuan untuk memodifikasi lingkungan fisik dan sosial anak untuk mendukung perubahan perilaku (AAP, 2001). Pihak yang dilibatkan biasanya adalah orang tua, guru, psikolog, terapis kesehatan mental, dan dokter. Tipe pendekatan perilakuan meliputi training perilaku untuk guru dan orang tua, program yang sistematik untuk anak (penguatan positif dan token economy), terapi perilaku klinis (training pemecahan masalah dan ketrampilan sosial), dan tritmen kognitif-perilakuan/CBT (monitoring diri, self-reinforcement, instruksi verbal untuk diri sendiri, dll) (AAP, 2001).
Metode farmasi meliputi penggunaan psikostimulan, antidepresan, obat untuk cemas, antipsikotik, dan stabilisator suasana hati (NIMH, 2000). Harus diperhatikan bahwa penggunaan obat-obatan ini harus dibawah pengawasan ketat dokter dan ahli farmasi yang terus-menerus melakukan evaluasi terhadap efektivitas penggunaan dan dampaknya terhadap subjek tertentu.
Beberapa penelitian terakhir membuktikan bahwa cara terbaik untuk menangani anak dengan ADHD adalah dengan mengkombinasikan beberapa pendekatan dan metode penanganan. Penelitian yang dilakukan NIMH terhadap 579 anak ADHD menunjukkan bahwa kombinasi terapi obat dan perilaku lebih efektif dibandingkan jika digunakan sendiri-sendiri. Tritmen multimodal khususnya efektif untuk meningkatkan ketrampilan sosial pada anak-anak ADHD yang diikuti gejala kecemasan atau depresi. Ternyata dosis obat yang digunakan lebih rendah jika diikuti dengan terapi perilaku daripada jika diberikan tanpa terapi perilaku.
Salah satu terapi perilaku yang dapat diberikan bagi anak-anak ADHD adalah dalam bentuk permainan, yang kemudian sering disebut terapi bermain.

sumber : www.wikipedia.com

TEORI PEMBELAJARAN TUNAGRAHITA

Teori dalam proses pembelajaran :
a. Teori Motivasi
Guru harus senantiasa memberikan motivasi kepada siswa agar memiliki gairah dan semangat yang tinggi dalam mengikuti kegiatan belajar- mengajar. Dan memberikan reward kepada siswa yang berbakat.

b. Teori Belajar dan Tingkah Laku
Dalam kegiatan belajar- mengajar, guru perlu mengembangkan strategi pembelajaran yang mampu mengoptimalkan interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, guru dengan siswa dan lingkungan, serta interaksi banyak arah.

c. Teori Kognitif
Sesuatu yang dipelajari siswa tergantung pada apa yang diketahui dari masing- masing siswa dan bagaimana informasi baru diproses.

Sumber : www.google.com

PENDIDIKAN DAN PENANGANAN AUTISME

Dengan penanganan dan pendidikan yang penuh kasih sayang, konsekuen, tidak kenal jemu dan dalam jangka waktu yang sangat lama, dapat terjadi perbaikan. Dari itu terapi harus dalam lembaga atau tempat yang khusus dan wajib dilakukan oleh suatu tim yang terdiri sebaiknya dari neurology, psikolog dan ortho-pedagog yang ramah, sabar, tetapi juga dapat bekerja secara sistematik.
Dalam rencana penanganannya, Kok membedakan antara 3 macam strategi. Bila type penyimpangan sebagai penggambaran problematic tingkah laku anak telah ditetapkan, dalam hal ini autism kanak- kanak awal, maka dibuatlah rencana penanganan strategi derajat pertama yang biasanya merupakan cara penanganan residensial (dalam perumahan khusus). Penanganan ini dilakukan oleh tim yang tetap dan mempergunakan kelompok-kelompok yang heterogen, jadi juga ada anak- anak lain yang tidak autistic.
Di dalam nya dapat dibedakan strategi-derajat-kedua yang berisi latihan- latihan fungsi, bantuan ortho- didaktis, dsb. Strategi derajat ketiga berhubungan dengan variasi individual terhadap dua strategi yang sebelumnya. Hal ini sangat penting bagi anak- anak autism, karena mereka lebih terlibat dengan dirinya sendiri daripada yang lain.

Sumber : “Psikologi Perkembangan Gadjah Mada University Press”

PENCEGAHAN DOWN SYNDROME

Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi. Sindrom down tidak bisa dicegah, karena DS merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Jumlsh kromosm 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3. Penyebabnya masih tidak diketahui pasti, yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin tinggi risiko untuk terjadinya DS.Diagnosis dalam kandungan bisa dilakukan, diagnosis pasti dengan analisis kromosom dengan cara pengambilan CVS (mengambil sedikit bagian janin pada plasenta) pada kehamilan 10-12 minggu) atau amniosentesis (pengambilan air ketuban) pada kehamilan 14-16 minggu.
Pemeriksaan diagnostic
Untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain:
• Pemeriksaan fisik penderita * UCG
• Pemeriksaan kromosom
• Ultrasonograpgy
• Echocardiogram
• Pemeriksaan darah (Percutaneus Umbilical Blood Sampling)

Sumber : www.wikipedia.com

PENANGANAN DINI HIPERAKTIFITAS

Melihat penyebab ADHD yang belum pasti terungkap dan adanya beberapa teori penyebabnya, maka tentunya terdapat banyak terapi atau cara dalam penanganannya sesuai dengan landasan teori penyebabnya. Terapi medikasi atau farmakologi adalah penanganan dengan menggunakan obat-obatan. Terapi ini hendaknya hanya sebagai penunjang dan sebagai kontrol terhadap kemungkinan timbulnya impuls-impuls hiperaktif yang tidak terkendali. Sebelum digunakannya obat-obat ini, diagnosa ADHD haruslah ditegakkan lebih dulu dan pendekatan terapi okupasi lainnya secara simultan juga harus dilaksanakan, sebab bila penanganan hanya diutamakan obat maka tidak akan efektif secara jangka panjang.
Terapi nutrisi dan diet banyak dilakukan dalam penanganan penderita. Diantaranya adalah keseimbangan diet karbohidrat, penanganan gangguan pencernaan (Intestinal Permeability or "Leaky Gut Syndrome"), penanganan alergi makanan atau reaksi simpang makanan lainnya. Feingold Diet dapat dipakai sebagai terapi alternatif yang dilaporkan cukup efektif. Suatu substansi asam amino (protein), L-Tyrosine, telah diuji-cobakan dengan hasil yang cukup memuaskan pada beberapa kasus, karena kemampuan L-Tyrosine mampu mensitesa (memproduksi) norepinephrin (neurotransmitter) yang juga dapat ditingkatkan produksinya dengan menggunakan golongan amphetamine.
Beberapa terapi biomedis dilakukan dengan pemberian suplemen nutrisi, defisiensi mineral, essential Fatty Acids, gangguan metabolisme asam amino dan toksisitas Logam berat. Terapi inovatif yang pernah diberikan terhadap penderita ADHD adalah terapi EEG Biofeed back, terapi herbal, pengobatan homeopatik dan pengobatan tradisional Cina seperti akupuntur.
Terapi yang diterapkan terhadap penderita ADHD haruslah bersifat holistik dan menyeluruh. Penanganan ini hendaknya melibatkan multi disiplin ilmu yang dilakukan antara dokter, orangtua, guru dan lingkungan yang berpengaruh terhadap penderita secara bersama-sama. Penanganan ideal harus dilakukan terapi stimulasi dan terapi perilaku secara terpadu guna menjamin keberhasilan terapi.
Untuk mengatasi gejala gangguan perkembangan dan perilaku pada penderita ADHD yang sudah ada dapat dilakukan dengan terapi okupasi. Ada beberapa terapi okupasi untuk memperbaiki gangguan perkembangan dan perilaku pada anak yang mulai dikenalkan oleh beberapa ahli perkembangan dan perilaku anak di dunia, diantaranya adalah sensory Integration (AYRES), snoezelen, neurodevelopment Treatment (BOBATH), modifukasi Perilaku, terapi bermain dan terapi okupasi lainnya

www.wikipedia.com

Optimalisasi kecerdasan emosional anak tunagrahita

Sangat dipahami oleh semua pendidik bahwa anak tunagrahita memiliki IQ jauh di bawah rata-rata normal. Karena IQ di bawah rata- rata inilah mereka dikelompokkan sebagai anak tunagrahita. Treatment yang diberikan kepada anak tunagrahita lebih di fokuskan pada life skill dan kemampuan merawat diri. 70% muatan Pendidikan bagi anak tunagrahita difokuskan pada kedua hal tersebut, selebihnya muatan- muatan akademik tetap diberikan untuk melengkapi kebutuhan hidupnya.
Tuntutan keberhasilan akademik memang bukan murni milik anak tungrahita. Di luar sana, masih ditemukan bagaimana orangtua yang tidak memiliki anak berkebutuhan khusus secara gencar memaksa anak-anak mereka untuk memiliki kemampuan akademik di atas standar kelas. Asumsi yang berkembang bahwa anak- anak akan memiliki kesuksesan hidup jika nilai-nilai akademik mereka tinggi.
Menurut Secapramana memberikan catatan penting untuk dicermati, bahwa kecerdasan akademik sedikit kaitannya dengan kehidupan emosional. Terdapat pemikiran bahwa IQ menyumbang paling banyak 20% bagi sukses dalam hidup, sedangkan 80% ditentukkan oleh factor lain. Kecerdasan akademis praktis tidak menawarkan persiapan untuk menghadapi gejolak atau kesempatan yang ditimbulkan oleh kesulitan- kesulitan hidup. IQ yang tinggi tidak menjamin kesejahteraan, gengsi, atau kebahagian hidup.

Sumber : www.google.com

MENDETEKSI ANAK MENGALAMI ADHD?

Terkadang kita melihat ada anak-anak yang terlihat sangat aktif dan tidak memperhatikan jika belajar di kelas. Namun, hal tersebut dapat saja merupakan sesuatu yang normal jika kita tilik dari usia mereka. Kita dapat mengarahkan pada diagnosa ADHD jika perilaku yang muncul tersebut sangat tidak sesuai dengan usia perkembangan mereka.
Terdapat beberapa kriteria dalam DSM-IV yang membantu kita melakukan deteksi terhadap anak-anak dengan gangguan ADHD. Seorang anak harus menampakkan beberapa karakteristik untuk dapat didignosa secara klinis mengalami ADHD.
Keparahan perilaku tersebut harus lebih sering muncul pada anak jika dibandingkan dengan anak-anak lain dalam tahap perkembangan yang sama
paling tidak beberapa gejala uncul sebelum usia 7 tahun. Dampak gejala harus menimbulkan dampak negatif pada kehidupan akademik dan sosial anak.
Seting gejala harus muncul pada beberapa seting dalam kehidupan anak.
Kriteria yang diberikan oleh DSM-IV untuk membantu kita menegakkan diagnosa ADHD dapat kita lihat berikut ini.
A. (1) memenuhi 6 atau lebih gejala kurangnya pemusatan perhatian paling tidak selama 6 bulan pada tingkat menganggu dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan;
(2) memenuhi 6 atau lebih gejala hiperaktivitas-impulsivitas paling tidak selama 6 bulan pada tingkat menganggu dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan

B. Gejala kurangnya pemusatan perhatian atau hiperaktivitas-impulsivitas muncul sebelum usia 7 tahun.
C. Gejala-gejala tersebut muncul dalam 2 seting atau lebih (di sekolah, rumah, atau pekerjaan)
D. Harus ada bukti nyata secara klinis adanya gangguan dalam fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan.
E. Gejala tidak terjadi mengikuti gangguan perkembangan pervasive, skizofrenia, atau gangguan psikotik lainnya dan tidak dilihat bersama dengan gangguan mental lain (gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, atau gangguan kepribadian).

sumber : " www.google.com "

KEHIDUPAN SEKSUALITAS ANAK DOWN SYNDROME

Kebutuhan seksual untuk orang- orang downsyndrome lebih sering tidak dipertimbangkan. Diketahui bahwa kenyataannya orang down syndrome memiliki kebutuhan seksual yang sama seperti orang- orang normal lainnya. Dan keinginan seksualnya dapat berubah- ubah intensitasnya dan individu dengan down syndrome kemungkinan memiliki pengendalian seksual yang tinggi ataupun rendah.
Kebutuhan seksual adalah hal yang normal untuk melampiaskan keinginan seks baik pada laki-laki atau perempuan. Individu yang down syndrome tidak mengerti bahwa hal yang berhubungan dengan seks harusnya dilakukan secara privasi. Karena mereka tidak sadar bahwa ada batasan keadaan social atau norma- norma social.
Orangtua sering cemas dan percaya bahwa perilaku seks down syndrome menunjukkan perilaku seks yang menyimpang karena ketidakdewasaan kognitif dan intelektualnya yag tidak sebanding dengan ukuran tubuhnya yang sudah tumbuh seperti orang dewasa umumnya.
Sumber : “ Psikologi Perkembangan, Gadjah Mada University Press “
Kecerdasan mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih- lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam oranglainm (empati) dan berdoa untuk memelihara hubungan sebaik- baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin.
Keterampilan ini dapat diajarkan kepada siapapun. Lebih dini diajarkan pada saat seseorang masih anak- anak. Kecerdasan emosional menambahkan jauh lebih banyak sifat- sifat yang membuat seseorang menjadi lebih manusiawi. Artinya, hal inipun dapat ditanamkan para guru dan orangtua dalam aktivitas pembelajaran di sekolah ataupun di rumah.

sumber : " www.google.com "

DOWN SYNDROME

Sindrom down (bahasa Inggris: down syndrome) merupakan kelainan kromosom yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup khas. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental anak ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon Down. Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relative pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongolia maka sering juga dikenal dengan Mongoloid. Pada tahun 1970an para ahli dari Amerika dan Eropa merevisi nama dari kelainan yang terjadi pada anak tersebut dengan merujuk penemu pertama kali syndrome ini dengan istilah sindrom down dan hingga kini penyakit ini dikenal dengan istilah yang sama.
Sindrom down merupakan kelainan kromosom yakni terbentuknya kromosom 21 (trisomy 21), Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental anak ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon Down.
Sumber : www.wikipedia.com

CIRI KHAS AUTISME

Ciri khas autism adalah bahwa mereka sejak dilahirkan mempunyai kontak social yang sangat terbatas. Perhatian mereka hampir tidak tertuju pada orang- orang lain, melainkan hanya pada benda- benda mati. Mereka tenggelam dalam penghayatan taktil-kinestetis, yaitu misalnya dengan bernafsu meraba- raba dirinya sendiri. Dalam bidang kognitif mereka mempunyai ingatan yang baiktetapi tegar, fantasi yang kurang, suatu pengalaman bentuk yang baik dan suatu perkembangan bahasa yang terhambat. Suatu penilaian yang dilakukan oleh Wurst dengan menggunakan test Sceno yang dibuat oleh Staabs (test dengan alat-alat permainan seperti boneka, hewan, pohon, alat- alat yang dapat dipakai anak untuk menggambarkan situasi atau kejadian) memberikan dugaan bahwa kontak social anak yang terbatas itu disebabkan oleh kecemasan, perasaan- perasaan tidak terlindung, keraguan, rasa tersaing, tetapi juga ketidak mampuan untuk mengerti situasi- situasi social.
Sumber : “ Psikologi Perkembangan, Gadjah Mada University Press “

Minggu, 11 April 2010

CIRI KHAS AUTISME

Ciri khas autism adalah bahwa mereka sejak dilahirkan mempunyai kontak social yang sangat terbatas. Perhatian mereka hampir tidak tertuju pada orang- orang lain, melainkan hanya pada benda- benda mati. Mereka tenggelam dalam penghayatan taktil-kinestetis, yaitu misalnya dengan bernafsu meraba- raba dirinya sendiri. Dalam bidang kognitif mereka mempunyai ingatan yang baiktetapi tegar, fantasi yang kurang, suatu pengalaman bentuk yang baik dan suatu perkembangan bahasa yang terhambat. Suatu penilaian yang dilakukan oleh Wurst dengan menggunakan test Sceno yang dibuat oleh Staabs (test dengan alat-alat permainan seperti boneka, hewan, pohon, alat- alat yang dapat dipakai anak untuk menggambarkan situasi atau kejadian) memberikan dugaan bahwa kontak social anak yang terbatas itu disebabkan oleh kecemasan, perasaan- perasaan tidak terlindung, keraguan, rasa tersaing, tetapi juga ketidak mampuan untuk mengerti situasi- situasi social.
Sumber : “ Psikologi Perkembangan, Gadjah Mada University Press “